Thursday, December 12, 2019

Cegah Stunting. SDM Unggul, Indonesia Produktif!


Untuk membangun negara yang produktif, dibutuhkan Sumber Daya Manusia yang unggul. Pembangunan Sumber Daya Manusia sendiri udah masuk ke dalam 5 prioritas kerja Pak Jokowi & Pak Ma’ruf. Ngomong-ngomong soal sumber daya manusia, pas banget dengan hasil rapat saya kemarin, waktu rapat perencanaan program gizi tahun 2020 bersama Dinas Kesehatan Kota Bandung.




Suasana Rakor Perencanaan Program Gizi untuk th 2020.
Percayalah netizen, ada saya dalam foto ini. Haha.
Suasana Rakor Perencanaan Program Gizi untuk th 2020
di Kota Bandung
Jadi teman-teman, sekarang issue yang lagi booming banget tentang gizi adalah stunting. Pernah denger nggak? Mungkin di televisi, di iklan, di IG, di twitter, dimana-mana gitu tentang stunting. Nah salah satu dampak jangka panjang dari stunting adalah produktifitas kerja menurun, hingga pembangunan ekonomi yang sangat kurang. 


Jadi apa Itu Stunting?
Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang lebih pendek dari tinggi badan seharusnya/tinggi badan teman sebaya nya. Cara hitungnya? Ya diukur panjang/tinggi badannya. Apakah sesuai dengan umurnya atau tidak. Kalau di kami ada indikator status gizi TB/U (dibaca tinggi badan menurut umur). Misal untuk anak perempuan usia 24 bulan (2 tahun), tinggi badan normalnya adalah 80 cm – 92,9 cm. Ketika anak tersebut tinggi badannya 76 cm, maka anak tersebut dikatakan stunting. Ditambah, kita cek lah kemampuan otaknya melalui tes perkembangan. Jika perkembanganya tidak sesuai dengan usianya, maka anak tersebut dikatakan stunting dan kemampuan otak tidak sesuai dengan usianya.

Situasi Stunting di Indonesia?
Nih ya, Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health Organization (WHO), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4%. Ketiga bosque! Setelah Timor Leste dan India. Klik gambar untuk memperbesar yaa..



Oke paham. Jadi kalo si balita ini udah pada gede, trus yang dari Indonesia nikah sama yang dari India, punya anak juga dari istri kedua yang asli Timor Leste, akankah keluarga ini menjadi keluarga  kerdil  cemara semua? Hehe, bercanda! Tapi parah nggak sih, ketiga dengan prevalensi stunting se Asia Tenggara! Duh, itu remaja yang pada bangga dengan diet nggak makan nasi seminggu, cuman makan buah dan gizinya gak seimbang, tubuhnya kurus, pendek, kecil, imut, jangan seneng gitu yah.. Bukan aku iri dengan keimutan kalian, bukan,, tapi aku mengingatkan, coba lebih bijak lagi sama kebutuhan badan.. :(

Tadi data se Asia Tenggara nih. Sekarang kita masuk ke Indonesia sendiri. Kejadian balita stunting merupakan masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir, pendek memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk. Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi 29,6% pada tahun 2017. Klik gambar untuk memperbesar yaa..



Survei PSG diselenggarakan sebagai monitoring dan evaluasi kegiatan dan capaian program. Berdasarkan hasil PSG tahun 2015, prevalensi balita pendek di Indonesia adalah 29%. Angka ini mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 27,5%. Namun prevalensi balita pendek kembali meningkat menjadi 29,6% pada tahun 2017.

Penyebab Stunting?
Stunting terjadi mulai dari pra-konsepsi ketika seorang remaja menjadi ibu yang kurang gizi dan anemia. Menjadi parah ketika hamil dengan asupan gizi yang tidak mencukupi kebutuhan, ditambah lagi ketika ibu hidup di lingkungan dengan sanitasi kurang memadai. Sebenarnya issue stunting ini sangat kompleks ya, teman-teman. Artinya merambah kemana-mana gitu. Bukan hanya menyangkut ke masalah kesehatan, tapi ngaruh ke lingkungan, pendidikan, sampai ekonomi. Klik gambar untuk memperbesar yaa..



Jadi ada yang namanya 1000 HPK teman-teman. 1000 Hari Pertama Kehidupan. Ini adalah hari-hari krusial dan sangat penting janin “terbentuk” dan keadaan kesehatan ibu, asupan gizi si janin, bayi, hingga menjadi anak ini sangat berpengaruh untuk kehidupannya mendatang. 1000 HPK ini bukan dimulai dari anak lahir ke dunia, tapi sejak usia 0 hari di dalam kandungan. Jadi artinya apa? Si calon ibu, si ibu hamil, asupan gizi nya sangat mempengaruhi keadaan janinnya.


Apa kaitannya dengan Produktivitas?
Stunting akan berdampak dan dikaitkan dengan proses kembang otak yang terganggu, dimana dalam jangka pendek berpengaruh pada kemampuan kognitif. Jangka panjang mengurangi kapasitas untuk berpendidikan lebih baik dan hilangnya kesempatan untuk peluang kerja dengan pendapatan lebih baik.
Dalam jangka panjang, anak stunting yang berhasil mempertahankan hidupnya, pada usia dewasa cenderung akan menjadi gemuk (obese), dan berpeluang menderita penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi, diabetes, kanker, dan lain-lain.
Kondisi ini semua sudah semakin jelas untuk Indonesia, yang menunjukkan adanya tren (kecenderungan)  PTM  meningkat dari tahun 2007 ke tahun 2013. Menurut hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2017, ada peningkatan nih teman-teman untuk kejadian PTM di Indonesia yang terjadi pada sekitar 70 juta penduk dewasa (>18 tahun), yang semula sebesar 33,2%  di tahun 2007, menjadi 42,4 % di tahun 2013. Klik gambar untuk memperbesar yaa..

Teman-teman tau? Usia 15-64 tahun termasuk ke dalam usia produktif. Kebayang kalo usia produktif ini terkena penyakit tidak menular seperti yang aku sebutin beberapa di atas? Berarti produktifitas mereka dalam bekerja pun berkurang. Pekerjaan tidak maksimal, atau bahkan sulit mendapat pekerjaan layak. Kalau SDM nya aja udah sakit seperti ini, pekerjaan nggak beres, gimana pembangunan Indonesia bisa maju? Kan gitu.

Saya coba bikin infografis seperti di bawah ini ya mengenai dampak jangka pendek dan jangka panjang yang ditimbulkan oleh stunting:

Dari gambar diatas, terlihat kan dampak stunting itu gak cuman msalah kesehatan, pendidikan aja tapi juga merembet ke masalah  prestasi belajar, produktivitas kerja, sampai masalah ekonomi. Jadi gini singkatnya:

STUNTING -> PERKEMBANGAN OTAK TERGANGGU -> PRESTASI BELAJAR TURUN -> PRODUKTIVITAS KERJA TIDAK OPTIMAL, PENINGKATAN RESIKO PTM (PENYAKIT TIDAK MENULAR) -> BIAYA KESEHATAN MENINGKAT (UNTUK MENGATASI STUNTING DAN PENYAKITNYA) -> PERTUMBUHAN EKONOMI TIDAK BAIK -> BANGSA TIDAK PRODUKTIF

Pencegahan Stunting
Stunting merupakan salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) yang termasuk pada tujuan pembangunan berkelanjutan ke-2 yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan pangan. Klik gambar untuk memperbesar yaa..



Kalo gambarnya nggak jelas, bisa googling yah, SDG's itu apa aja poinnya.. Nah target yang ditetapkan adalah menurunkan angka stunting hingga 40% pada tahun 2025. Ini serius, bakal jadi PR besar banget buat kami para ahi gizi, khususnya di kota Bandung dimana stuntingnya udah mencapai 25,8% dari seluruh balita. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menetapkan stunting sebagai salah satu program prioritas di bidang kesehatan, bersama Imunisasi dan TBC. Klik gambar untuk memperbesar yaa..


Gimana dengan pencegahan stunting? Untuk pencegahannya sendiri, dari bidang gizi itu dibagi dua: Ada intervensi gizi spesifik, dan intervensi gizi sensitif. Bedanya, untuk yang spesifik itu lebih ke kesehatan banget. Nanti bisa kita lihat juga di bawah apa aja poin-poinnya. Sedangkan kalo yang sensitif, itu lebih ke umum, dan butuh peran lintas sektor banget. Makanya, intervensi gizi sensitif ini kontribusinya 70%, dan lebih besar dari intervensi spesifik yang berkontribusi 30%. Klik gambar untuk memperbesar yaa..

Nah, saya jadi inget ada yang namanya the cycle of stunting gitu. Jadi kalo stunting nggak diatasi ya akan terus berulang terus dan terus gitu ke generasi selanjutnya. Sedih nggak sih? 


Terlihat di gambar, jadi ketika ada remaja putri dengan gizi kurang, maka dia akan menjadi calon ibu yang kurang juga asupan gizinya. Kemudian dia akna melahirkan bayi yang beresiko prematur, dan beresiko menjadi anak stunting Trus kalo udah besar jadi remaja putri yang kurang gizi juga. Gitu aja terus... Ini ada lagi the cycle of stunting yang kedua. Klik gambar untuk memperbesar yaa..

Nah, kalo di gambar ini lebih jelas lagi ya pengaruhnya ke prestasi belajar dan produktivitas kerja. Dan ternyata siklus ini akan terus berulang dari generasi ke generasi kalau stunting nya sendiri nggak kita atasi.

Jadi SDM Indonesia yang unggul tuh emang bener gitu bisa membuat negara ini menjadi negara produktif dan berdaya saing tinggi. Mencegah stunting ini butuh bantuan dari berbagai pihak lho, dari unit terkecil hingga terbesar. Nah ini, unit terkecil ya kita-kita.

Buat teman-teman (yang saya yakin kebanyakan masih usia produktif yang lagi baca blog saya ini) yuk bareng-bareng persiapin generasi masa depan yang terbaik. Kalo sekarang tren diet, dengan bangganya remaja bahagia tubuhnya imut, mungil, langsing, itu salah gaesss… Stunting juga berwal dari pemikiran seperti ini. Yang penting tubuh kurus langsing. Tapi gimana dong nanti kalo remaja perempuan udah kekurangan zat gizi mikro kayak zat besi, kalium, seng, magnesium,dll. Gimana dia bisa persiapkan tubuhnya untuk hamil? Haruskah janinnya juga kekurangan gizi? :(  Makanya sekarang ada program minum tablet tambah darah di sekolah-sekolah biar apa? Biar remaja putri terhindar dari anemia. Ujungnya apa? Ujungnya remaja putri ini kan bakal jadi calon Ibu seuatu saat nanti, sudah siap gitu jadi ibu hamil bebas anemia.

Misal kamu yang perempuan, Kamu umur berapa? 18 tahun? Belum nikah? Rencana nikah? Sok atuh perbaiki asupannya. Jadi nanti ketika kamu menjadi calon Ibu hamil, tubuh kamu tuh udah siap gitu dihuni oleh janin, a.k.a. ya generasi penerus bangsa. Kalo kalian udah jadi seorang Ibu, yuk bantu jaga asupan makan anak juga.Kalo asupan makan kamu oke, gak banyak makanan sintetis, jadi janinnya juga Insyaallah oke, sehat, ke depannya bebas stunting. Kalo kamu laki-laki, seorang ayah/calon ayah, lelaki dewasa yang berencana menikah (hehe) kasih tau pasangannya agar jaga asupan makannya, perbanyak sayur buah, jadi anak-anaknya InsyaAllah bebas stunting. Please jaga yah. Makanan aja dijaga, apalagi kamu.. Haha..

Semoga kita bisa bareng-bareng ya mengingatkan keluarga, saudara kita, tetangga untuk mulai pola makan dan pola hidup sehat. Cegah stunting itu penting, untuk mewujudkan SDM unggul, Indonesia produktif! :’)



Salam,




Sri Wijayanti


Referensi :
Departemen Kesehatan RI. 2008. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007. Jakarta.
- Kementerian Kesehatan RI. 2014. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. Jakarta.
WHO. Child Stunting Data Visualizations Dashboard. http://apps.who.int/gho/data/node.sdg. 2-2-viz-1?lang=en
- Bappenas 2013. Pedoman Perencanaan Program Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi       dalam rangka 1000 Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK), Tahun 2013.
- Hasil Rakor Surveilans Gizi Kota Bandung, 10 Desember 2019. Disampaikan oleh Bapelitbang.
- SDG'S Indonesia, sdgsindonesia.or.id