Sunday, February 23, 2020

Kesandung Meja, Ditempel Koyo // Satu Kalimat Aja, WE LOVE OYO!

Selain gajian, yang dinanti-nanti working mom macam aku adalah hari Jum’at! Kenapa? Karena weekend? Karena Sabtu Minggu libur? Bukan,, kalo Sabtu mah aku juga masuk kerja. Tapi Jum’at adalah waktunya si cinta pulang ke Bandung.😍 Duuuh, derita LDM an. 😂Yang ngejalanin LDM juga pasti ngerti yaa gimana rasanya memupuk rindu satu minggu, kemudian tiba saatnya panen ketika suami pulang. Uhuukk…

Karena papa Daffa pulang seminggu sekali, sayang banget kan kalo saat saat libur gini hanya ngelakuin hal gitu-gitu aja (read: rebahan-nonton-guling-guling) di rumah? Jadi aku nggak bisa ngelewatin weekend begitu aja.. Trus ngapain aja ya enaknya spending time sama papa dan Daffa kalo weekend?

Thursday, December 12, 2019

Cegah Stunting. SDM Unggul, Indonesia Produktif!


Untuk membangun negara yang produktif, dibutuhkan Sumber Daya Manusia yang unggul. Pembangunan Sumber Daya Manusia sendiri udah masuk ke dalam 5 prioritas kerja Pak Jokowi & Pak Ma’ruf. Ngomong-ngomong soal sumber daya manusia, pas banget dengan hasil rapat saya kemarin, waktu rapat perencanaan program gizi tahun 2020 bersama Dinas Kesehatan Kota Bandung.




Suasana Rakor Perencanaan Program Gizi untuk th 2020.
Percayalah netizen, ada saya dalam foto ini. Haha.
Suasana Rakor Perencanaan Program Gizi untuk th 2020
di Kota Bandung
Jadi teman-teman, sekarang issue yang lagi booming banget tentang gizi adalah stunting. Pernah denger nggak? Mungkin di televisi, di iklan, di IG, di twitter, dimana-mana gitu tentang stunting. Nah salah satu dampak jangka panjang dari stunting adalah produktifitas kerja menurun, hingga pembangunan ekonomi yang sangat kurang. 


Jadi apa Itu Stunting?
Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang lebih pendek dari tinggi badan seharusnya/tinggi badan teman sebaya nya. Cara hitungnya? Ya diukur panjang/tinggi badannya. Apakah sesuai dengan umurnya atau tidak. Kalau di kami ada indikator status gizi TB/U (dibaca tinggi badan menurut umur). Misal untuk anak perempuan usia 24 bulan (2 tahun), tinggi badan normalnya adalah 80 cm – 92,9 cm. Ketika anak tersebut tinggi badannya 76 cm, maka anak tersebut dikatakan stunting. Ditambah, kita cek lah kemampuan otaknya melalui tes perkembangan. Jika perkembanganya tidak sesuai dengan usianya, maka anak tersebut dikatakan stunting dan kemampuan otak tidak sesuai dengan usianya.

Situasi Stunting di Indonesia?
Nih ya, Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health Organization (WHO), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4%. Ketiga bosque! Setelah Timor Leste dan India. Klik gambar untuk memperbesar yaa..



Oke paham. Jadi kalo si balita ini udah pada gede, trus yang dari Indonesia nikah sama yang dari India, punya anak juga dari istri kedua yang asli Timor Leste, akankah keluarga ini menjadi keluarga  kerdil  cemara semua? Hehe, bercanda! Tapi parah nggak sih, ketiga dengan prevalensi stunting se Asia Tenggara! Duh, itu remaja yang pada bangga dengan diet nggak makan nasi seminggu, cuman makan buah dan gizinya gak seimbang, tubuhnya kurus, pendek, kecil, imut, jangan seneng gitu yah.. Bukan aku iri dengan keimutan kalian, bukan,, tapi aku mengingatkan, coba lebih bijak lagi sama kebutuhan badan.. :(

Tadi data se Asia Tenggara nih. Sekarang kita masuk ke Indonesia sendiri. Kejadian balita stunting merupakan masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir, pendek memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk. Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi 29,6% pada tahun 2017. Klik gambar untuk memperbesar yaa..



Survei PSG diselenggarakan sebagai monitoring dan evaluasi kegiatan dan capaian program. Berdasarkan hasil PSG tahun 2015, prevalensi balita pendek di Indonesia adalah 29%. Angka ini mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 27,5%. Namun prevalensi balita pendek kembali meningkat menjadi 29,6% pada tahun 2017.

Penyebab Stunting?
Stunting terjadi mulai dari pra-konsepsi ketika seorang remaja menjadi ibu yang kurang gizi dan anemia. Menjadi parah ketika hamil dengan asupan gizi yang tidak mencukupi kebutuhan, ditambah lagi ketika ibu hidup di lingkungan dengan sanitasi kurang memadai. Sebenarnya issue stunting ini sangat kompleks ya, teman-teman. Artinya merambah kemana-mana gitu. Bukan hanya menyangkut ke masalah kesehatan, tapi ngaruh ke lingkungan, pendidikan, sampai ekonomi. Klik gambar untuk memperbesar yaa..



Jadi ada yang namanya 1000 HPK teman-teman. 1000 Hari Pertama Kehidupan. Ini adalah hari-hari krusial dan sangat penting janin “terbentuk” dan keadaan kesehatan ibu, asupan gizi si janin, bayi, hingga menjadi anak ini sangat berpengaruh untuk kehidupannya mendatang. 1000 HPK ini bukan dimulai dari anak lahir ke dunia, tapi sejak usia 0 hari di dalam kandungan. Jadi artinya apa? Si calon ibu, si ibu hamil, asupan gizi nya sangat mempengaruhi keadaan janinnya.


Apa kaitannya dengan Produktivitas?
Stunting akan berdampak dan dikaitkan dengan proses kembang otak yang terganggu, dimana dalam jangka pendek berpengaruh pada kemampuan kognitif. Jangka panjang mengurangi kapasitas untuk berpendidikan lebih baik dan hilangnya kesempatan untuk peluang kerja dengan pendapatan lebih baik.
Dalam jangka panjang, anak stunting yang berhasil mempertahankan hidupnya, pada usia dewasa cenderung akan menjadi gemuk (obese), dan berpeluang menderita penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi, diabetes, kanker, dan lain-lain.
Kondisi ini semua sudah semakin jelas untuk Indonesia, yang menunjukkan adanya tren (kecenderungan)  PTM  meningkat dari tahun 2007 ke tahun 2013. Menurut hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2017, ada peningkatan nih teman-teman untuk kejadian PTM di Indonesia yang terjadi pada sekitar 70 juta penduk dewasa (>18 tahun), yang semula sebesar 33,2%  di tahun 2007, menjadi 42,4 % di tahun 2013. Klik gambar untuk memperbesar yaa..

Teman-teman tau? Usia 15-64 tahun termasuk ke dalam usia produktif. Kebayang kalo usia produktif ini terkena penyakit tidak menular seperti yang aku sebutin beberapa di atas? Berarti produktifitas mereka dalam bekerja pun berkurang. Pekerjaan tidak maksimal, atau bahkan sulit mendapat pekerjaan layak. Kalau SDM nya aja udah sakit seperti ini, pekerjaan nggak beres, gimana pembangunan Indonesia bisa maju? Kan gitu.

Saya coba bikin infografis seperti di bawah ini ya mengenai dampak jangka pendek dan jangka panjang yang ditimbulkan oleh stunting:

Dari gambar diatas, terlihat kan dampak stunting itu gak cuman msalah kesehatan, pendidikan aja tapi juga merembet ke masalah  prestasi belajar, produktivitas kerja, sampai masalah ekonomi. Jadi gini singkatnya:

STUNTING -> PERKEMBANGAN OTAK TERGANGGU -> PRESTASI BELAJAR TURUN -> PRODUKTIVITAS KERJA TIDAK OPTIMAL, PENINGKATAN RESIKO PTM (PENYAKIT TIDAK MENULAR) -> BIAYA KESEHATAN MENINGKAT (UNTUK MENGATASI STUNTING DAN PENYAKITNYA) -> PERTUMBUHAN EKONOMI TIDAK BAIK -> BANGSA TIDAK PRODUKTIF

Pencegahan Stunting
Stunting merupakan salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) yang termasuk pada tujuan pembangunan berkelanjutan ke-2 yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan pangan. Klik gambar untuk memperbesar yaa..



Kalo gambarnya nggak jelas, bisa googling yah, SDG's itu apa aja poinnya.. Nah target yang ditetapkan adalah menurunkan angka stunting hingga 40% pada tahun 2025. Ini serius, bakal jadi PR besar banget buat kami para ahi gizi, khususnya di kota Bandung dimana stuntingnya udah mencapai 25,8% dari seluruh balita. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menetapkan stunting sebagai salah satu program prioritas di bidang kesehatan, bersama Imunisasi dan TBC. Klik gambar untuk memperbesar yaa..


Gimana dengan pencegahan stunting? Untuk pencegahannya sendiri, dari bidang gizi itu dibagi dua: Ada intervensi gizi spesifik, dan intervensi gizi sensitif. Bedanya, untuk yang spesifik itu lebih ke kesehatan banget. Nanti bisa kita lihat juga di bawah apa aja poin-poinnya. Sedangkan kalo yang sensitif, itu lebih ke umum, dan butuh peran lintas sektor banget. Makanya, intervensi gizi sensitif ini kontribusinya 70%, dan lebih besar dari intervensi spesifik yang berkontribusi 30%. Klik gambar untuk memperbesar yaa..

Nah, saya jadi inget ada yang namanya the cycle of stunting gitu. Jadi kalo stunting nggak diatasi ya akan terus berulang terus dan terus gitu ke generasi selanjutnya. Sedih nggak sih? 


Terlihat di gambar, jadi ketika ada remaja putri dengan gizi kurang, maka dia akan menjadi calon ibu yang kurang juga asupan gizinya. Kemudian dia akna melahirkan bayi yang beresiko prematur, dan beresiko menjadi anak stunting Trus kalo udah besar jadi remaja putri yang kurang gizi juga. Gitu aja terus... Ini ada lagi the cycle of stunting yang kedua. Klik gambar untuk memperbesar yaa..

Nah, kalo di gambar ini lebih jelas lagi ya pengaruhnya ke prestasi belajar dan produktivitas kerja. Dan ternyata siklus ini akan terus berulang dari generasi ke generasi kalau stunting nya sendiri nggak kita atasi.

Jadi SDM Indonesia yang unggul tuh emang bener gitu bisa membuat negara ini menjadi negara produktif dan berdaya saing tinggi. Mencegah stunting ini butuh bantuan dari berbagai pihak lho, dari unit terkecil hingga terbesar. Nah ini, unit terkecil ya kita-kita.

Buat teman-teman (yang saya yakin kebanyakan masih usia produktif yang lagi baca blog saya ini) yuk bareng-bareng persiapin generasi masa depan yang terbaik. Kalo sekarang tren diet, dengan bangganya remaja bahagia tubuhnya imut, mungil, langsing, itu salah gaesss… Stunting juga berwal dari pemikiran seperti ini. Yang penting tubuh kurus langsing. Tapi gimana dong nanti kalo remaja perempuan udah kekurangan zat gizi mikro kayak zat besi, kalium, seng, magnesium,dll. Gimana dia bisa persiapkan tubuhnya untuk hamil? Haruskah janinnya juga kekurangan gizi? :(  Makanya sekarang ada program minum tablet tambah darah di sekolah-sekolah biar apa? Biar remaja putri terhindar dari anemia. Ujungnya apa? Ujungnya remaja putri ini kan bakal jadi calon Ibu seuatu saat nanti, sudah siap gitu jadi ibu hamil bebas anemia.

Misal kamu yang perempuan, Kamu umur berapa? 18 tahun? Belum nikah? Rencana nikah? Sok atuh perbaiki asupannya. Jadi nanti ketika kamu menjadi calon Ibu hamil, tubuh kamu tuh udah siap gitu dihuni oleh janin, a.k.a. ya generasi penerus bangsa. Kalo kalian udah jadi seorang Ibu, yuk bantu jaga asupan makan anak juga.Kalo asupan makan kamu oke, gak banyak makanan sintetis, jadi janinnya juga Insyaallah oke, sehat, ke depannya bebas stunting. Kalo kamu laki-laki, seorang ayah/calon ayah, lelaki dewasa yang berencana menikah (hehe) kasih tau pasangannya agar jaga asupan makannya, perbanyak sayur buah, jadi anak-anaknya InsyaAllah bebas stunting. Please jaga yah. Makanan aja dijaga, apalagi kamu.. Haha..

Semoga kita bisa bareng-bareng ya mengingatkan keluarga, saudara kita, tetangga untuk mulai pola makan dan pola hidup sehat. Cegah stunting itu penting, untuk mewujudkan SDM unggul, Indonesia produktif! :’)



Salam,




Sri Wijayanti


Referensi :
Departemen Kesehatan RI. 2008. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007. Jakarta.
- Kementerian Kesehatan RI. 2014. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. Jakarta.
WHO. Child Stunting Data Visualizations Dashboard. http://apps.who.int/gho/data/node.sdg. 2-2-viz-1?lang=en
- Bappenas 2013. Pedoman Perencanaan Program Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi       dalam rangka 1000 Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK), Tahun 2013.
- Hasil Rakor Surveilans Gizi Kota Bandung, 10 Desember 2019. Disampaikan oleh Bapelitbang.
- SDG'S Indonesia, sdgsindonesia.or.id

                     

Thursday, December 20, 2018

Mengenal dan Mencegah Pneumonia pada Anak

Satu bulan yang lalu, sekitar pertengahan bulan November saya dikejutkan dengan kabar dari teman saya yang memberi tahu kalau putri kecilnya, Rani, masuk UGD Rumah sakit dan harus dirawat. Setelah saya tanya apa penyakitnya, kakak saya bilang kalau Rani terkena pneumonia. Saya ikut sedih dan kasihan melihat bayi 4 bulan itu sudah harus merasakan sakitnya ditusuk oleh jarum suntik dan diinfus beberapa hari di Rumah sakit.

Monday, April 9, 2018

#KapanAjaBisa dengan Airy Rooms, Menginap Hemat, Kenyamanan pun Didapat!


Halo semuanya, sebelumnya MomDaffa mau ngucapin makasih banyak buat komentar para blogger di postingan Resign yang sangat menginspirasi dan membuat MomDaffa semangat menyambut hari hari sebagai ratu rumah tangga, setelah sebelumnya MomDaffa berjuang kelelahan bener-bener jadi Working Mom yang LDR an sama Suami. Hehe.

Kali ini, MomDaffa mau share seputar pengalaman nginep dengan Airy Rooms. Jadi ceritanya MomDaffa (seperti biasa) nemenin suami dinas ke luar kota dua hari satu malam. Kali ini gak jauh sih, Bekasi. Tidurnya dimana? Karena kami nggak mau ngerepotin sepupu suami yang kebetulan ngekos daerah Bekasi juga, maka kami putuskan buat nginep aja di hotel. Hotel? Mahal dong? Pasti nggak akan nyaman dan nggak nyenyak tidurnya? Jawabannya, nggak sama sekali!

Tuesday, December 19, 2017

RESIGN




Resign nggak ya?

Mungkin ini pertanyaan yang sering terlintas melewati pikiran para Ibu karier yang baru punya anak, suami jauh, memendam ridu ingin jumpa tiap hari, bingung ngatur keuangan kalo masih hidup sendiri-sendiri yang satu ngontrak satu ikut ortu, hehe intinya mau sampai kapan hidup jauh-jauhan begini? Apakah semua kekayaan ini berkah jika jauh dari pintu surga kami para wanita?

Hal ini juga terjadi sama saya. Saya adalah satu dari para Ibu yang saya sebutkan barusan. Sebenarnya cita-cita saya selepas kuliah adalah cari kerja bentar, dinikahin, trus berhenti kerja, foya-foya sama duit suami, dan live happyly ever after. Haha.

Nyatanya nggak seperti itu ya, dan Alhamdulillah tidak seperti itu. Alhamdulillah saya punya orang tua yang mengingatkan kalo cita-cita saya selepas kuliah barusan: salah. Dan kenyataannya tidak se perfect itu. Saya yang nggak betah diem, masih aja kerja ngelayanin pasien di rumah sakit. Masih aja egois pengen punya tabungan dari hasil kerja sendiri dan bilang ke suami supaya kuat hidup LDR an. Lah akhirnya saya yang menyerah. :D

Kehadiran Daffa juga jadi alasan kuat kami. Suami pengen bangun kerajaan berdua bersama saya sebagai Ibu Ratu dan dia Paduka Raja. Daffa lah pangeran muda kami. Lalu datanglah elang bertubuh emas sebagai kendaraan kami menundukkan kerajaan negeri seberang (udah mulai ngaco). Intinya, Ayah mana yang tidak ingin kepulangannya dari kantor disambut oleh senyum ceria istri dan anaknya setiap hari? Ayah mana yang tidak ingin lelahnya hilang seketika mendengar celotehan anaknya dan cerewetan manja istrinya setiap hari? Begitupun dengan suami saya.

Daffa nya kami, penghilang semua lelah kami :')
Tentang rezeki, saya harusnya tidak perlu dan tidak boleh sedikitpun meragu. Pintu rezeki pasti selalu terbuka untuk kami. Walau nanti pemasukan kami berkurang karena saya udah nggak kerja, tapi pasti ada aja rezeki mah. Bahkan kalua dipikir-pikir sebenernya sekarang gaji kami berdua dikumpulin bisa buat nyicil rumah dan beli apartemen dan beli Pulau, malah abis buat ongkos PP suami dan banyak biaya tidak terduga yang keluar. Hehe.

Ah, sudahlah. Lagian ini bukan tentang uang.

Tapi tentang kedekatan orang tua dengan anaknya. Tentang Daffa yang membutuhkan sosok Ayah Ibunya mengarungi samudera kehidupan, bersama dia setiap hari. Selain itu, ini tentang seorang anak yang sudah menikah tapi masih saja merepotkan Ibunya buat ngasuh anaknya. Ibunya pun bukan di usia muda lagi, walaupun kanjeng Ratu (Ibu saya) sangat senang bisa main terus sama Daffa di hidupnya yang mulai sepi tanpa suami di sampingnya, tapi tetap saja sekali atau dua kali saya pernah mendengar beliau mengeluh, “Duh, kaki Uti (sebutan Ibu untuk Daffa) udah rapuh, sakit, jangan diajak lari-lari terus cu…”. Kalo udah gini, resign adalah pilihan terbaik.

Saya juga ngejar pahala lewat sang Raja. Karena dia adalah ladang pahala untuk saya. Bahkan hanya membukakan kaos kakinya sepulang kerja, mengambilkannya air saat haus, dan menjadi orang yang pertama kali dia lihat senyumnya saat membuka mata setiap pagi adalah pahala untuk saya. Ya, dia tujuan saya, plus Daffa.
His happiness is our priority
Mungkin banyak juga ya Ibu karier dengan suami LDR an seperti saya dan dia kuat menjalani hidup seperti itu. Ada yang suaminya pelaut baru pulang 6 bulan sekali. Salut. Tapi adek lelah bang, haha. Karena setiap orang berbeda, karena hidupnya pun berbeda, karena problemnya pun berbeda, karena tujuan hidupnya pun berbeda. Sekarang saya inginnya tinggal satu rumah dulu dengan suami setiap hari, susah senang ditanggung bersama, kalau atap rumah bocor kami bisa merasakan tetesan air yang sama.

Jika tiba saatnya saya mau bekerja lagi, yang penting satu kota sama suami. Yaela, serapuh inikah adek tanpamu bang? Haha.

Sekarang mari nikmati hari-hari sebelum resign di rumah sakit ini, mari konsul pasien seperti biasa, lupakan program kerja 2018 karena bukan kita lagi yang tanggung jawab (lah?haha), lupakan jasa medis BPJS yang tak kunjung cair, Upss…. dan mari tersenyum tanpa galau, sebentar lagi kita free ya Sriiiii haha…
Selfie dulu ya sama ruangan tersayang :)

Keputusan saya ini Insyaallah tepat kan ya? Selamat bahagia ya semuanya.. J

Saturday, September 9, 2017

BUMIL HIPEREMESIS



Hello :)
Kali ini mau nyeritain pengalaman kedua dirawat di rumah sakit saat hamil kemarin. Jadi kalo yang pertama itu kayaknya karena kelelahan makanya harus bed rest di RS. Kalo yang kedua dirawat karena Hiperemesis. Istilah medisnya biasa sebut HEG (Hiperemesis Gravidarum).

Penting dibaca ya buat peyempuan, terutama seorang istri, calon mahmud mamah muda, dan calon ibu lainnya. 

Apa Sih Hiperemesis Gravidarum?

Thursday, April 7, 2016

ALHAMDULILLAH SAH :)

Hello Fellas :)

Ini adalah posting pertamaku dengan status baru.. Hihi..
Sekarang temen-temen di rumah sakit udah pada jail manggil aku Nyonya Haris.
Apalagi waktu pertama kali masuk kerja setelah ambil cuti satu minggu. Widiiih... rumah sakit jadi rame beneerr... Begitu lihat aku datang...
Eiits,, ada pengantin baruuuuu...
Komen kayak gini masih bisa ditoleransi.
Gimana?????? Sukses????
Nah, mulai aneh deh komennya. Sukses apanya coba??!
Gimana rasanya nikah??
Ah, sulit diungkap oleh kata. Rasanya bahagia di puncak level terbahagia.
Mana coba lihat jalannyaaa... Tuh kan, beda ya sekarang.....
Komen kayak gini yang bikin malu. Masa pasien -pasien malah pada ngeliatin bokong ku. Hiks.. Kan awkward bangettt...

Udah lewat sebulan ya dari tanggal 21 Februari 2016? Tapi suasana di hari itu bener-bener nggak bisa dilupain. Mulai dari make up abis solat Subuh..


Selfie dulu sama Ibu Bapak... :D